Senin, 05 September 2016

Malam Musim Panas di Chuncheon

Musim panas di Korea rasanya dimulai sejak Mei dan belum berakhir sampai awal September. Suhu siang sekitar 35 dengan real feel 42, terik, dan sangat humid. Sedikit lebih panas dari Jakarta, tapi bedanya saya ga pernah berniat jalan kaki siang keliling menikmati keindahan Jakarta. Jadilah sepanjang siang setiap hari di Chuncheon ini teramat menyedihkan. Kalaupun memaksakan keluar tengah hari sekedar jalan memutar lalu ke minimarket, meski sudah mengaplikasi sunblock, pulangnya tetap saja muka merraah, gosong.

Pun warga pribumi, selama matahari tampak bersinar, jarang mereka keluyuran di trotoar. Kalau ada, sambil mencari bayang-bayang teduh, membuka payung, atau memakai topi dengan kanopi lebar yang anti UV. Bagi orang Korea, kulit putih itu menunjukkan strata sosial tinggi karena dianggap pekerjaannya keren, di ruang tertutup. Alasan yang sama, sebagian besar produk kosmetik Korea mengandung whitening, dan wisata pantai kurang diminati.

Selasa, 30 Agustus 2016

Gunung Seorak (설악산)

Setelah tiga hari di pantai Sokcho dan gagal ke Seoraksan di hari pertama, saya memaksa PapaMi di hari terakhir. Hikmahnya, kami jadi berangkat di hari kerja yang tentu lebih lengang dibanding akhir pekan, naik bus pagi yang masih kosong, dan naik cable car tanpa antri yang kalau peak hour peak season bisa mengantri 3-4 jam. Menumpang bus 7 atau 7-1 dari Sokcho, sekitar 45 menit sampailah di Taman Nasional Seoraksan (설악산소공원)

Dengan tiket 3500 won (Hilmi gratis), kami masuk Seoraksan. Banyak jalur pendakian bisa dipilih sesuai kemampuan. Berdasarkan perjanjian saya dan PapaMi, karena waktu sangat terbatas, kami tidak akan mendaki. Memandangi orang-orang dengan ransel, topi, jaket, sepatu, professional hiker, di situ kadang saya merasa pingin hiking juga, huhu.


Pantai Sokcho

Dari Chuncheon, kami menumpang bus nonstop sekitar 1,5 jam sampai terminal intercity Sokcho. Naik bus lagi 1, 1-1, 7, 7-1, 9, 9-1, 16, 18, 66, atau 66-1, (mungkin semua bus-dalam-kota bisa?) sampai terminal express. Jika dari Seoul bisa naik bus dari terminal Dongseoul sampai terminal intercity atau langsung dari terminal Gangnam ke terminal express. Lanjutkan jalan kaki 500-an meter. Tibalah di pantai.

melewatkan sunrise di pantai Sokcho

Perjalanan Chuncheon - Sokcho - Seoraksan

Dari terminal Chuncheon, kami beli tiket bus Kangwon Express seharga 13400 won tujuan ke Sokcho. Perjalanan epic pun dimulai. Saya penuh percaya diri setelah baca bahwa hotel akan sangat eye catching dari terminal express di Sokcho. Terminal bus di Sokcho memang ada dua: terminal express untuk bus express (dari Seoul) dan terminal intercity untuk bus biasa (dari Seoul). Kami naik bus Kangwon Express, namanya sudah mention express, saya yakin pasti berhenti di terminal express.

Ternyata bus kami berhenti di terminal intercity. Ternyata masih 2.5 km jaraknya ke hotel. Dengan public wifi terbatas kami mengikuti arahan google maps. Menyusuri pelabuhan, menyebrang danau, menapaki dua jembatan besar, melewatkan panah-panah penunjuk jalan menuju tempat-tempat wisata yang entah apa, saking lelah kami tidak peduli.

Kamis, 11 Agustus 2016

Kim You-Jeong

Adalah seorang novelis terkemuka dari Sille, Chuncheon. Nama Kim You-Jeong (김유정) diabadikan, pada sebuah stasiun kereta yang ikonik, rumah dan taman yang menjadi museum, serta keseluruhan kampung halamannya menjadi desa literatur.

Stasiun Kim You-Jeong merupakan bangunan khas Korea yang megah dengan sebuah kereta menjadi ruang pameran serta infrasuktur lain bertema kereta-dan-masinis.

Museum Nasional Chuncheon

Di alam bawah sadar saya mengakui sangat menikmati semua kunjungan ke museum. Meski awalnya terpaksa, kehabisan tempat hiburan, atau demi ngadem di ruang ber-AC gratisan, pada akhirnya saya sukaa! Di Polandia setiap museum pemerintah punya jadwal sehari dalam seminggu yang tiket masuknya gratis dan Malam Museum yang mengantri seruu sekali. Di Indonesia tiket masuk museum pemerintah sangaat muraahh tetapi tidak cukup menarik pengunjung sehingga banyak museum, di Bandung khususnya, malah jadi tempat berburu hantu saking spooky. Di Korea museum pemerintah dbiasanya free admission bahkan ada section anak-anak juga.

Museum Nasional Korea di Seoul itu megah sekali, Museum Narodowe di Warsaw juga sangat luas, sayangnya saya belum pernah ke Museum Nasional Indonesia (ampun!). Nah Museum Nasional Chuncheon (국립춘천박물관) juga termasuk besar di ibukota yang pedesaan ini. Jadi, pada-satu-hari-musim-panas-yang-biasa-suhu-real-feel-nya-42-seolah-belasan-matahari-membakar-senegara-ini-bersamaan, kami memutuskan berteduh dalam lindungan dinding marmer di museum.

Selasa, 19 Juli 2016

Bahan Kimia Sintesis vs Organik

Semakin marak produk natural dan organik: makanan, kosmetik, sampai pakaian. Dilabel dengan harga jauh mahal, produk organik menyampaikan pesan bahwa segala hal yang alami dipastikan lebih baik. Benarkah bahwa bahan kimia sintesis berbahaya dan bahan organik lebih baik?

Senin, 18 Juli 2016

Apakah Warsaw Ramah Keluarga?

Sewaktu masih tinggal di Warsaw, apalagi sebelumnya, saya tidak terpikir mencari informasi tentang ini. Alhamdulillah, Warsaw baik saja. Berikut beberapa pemaparan, apakah Warsaw ramah keluarga, alias family friendly. Pemaparan ini subjektif berdasarkan pengamatan saya.

Rabu, 06 Juli 2016

Idul Fitri di Namiseom

Ramadhan di Korea. Berpuasa mulai sekitar jam 3 AM sampai jam 8 PM, memang tidak sedramatis di Polandia yang 19 jam. Tetapi musim panas di sini serupa Subang dan Jakarta, teriiikk sekali dengan suhu lebih dari 30 C. Jalan kaki main ke taman saja sudah lelah, panas, hauuss, pengen marah-marah (saya doang kaliii). Sampai jam 5 sore pun masih terik keterlaluan. Setelah Ramadhan pun, saat ga lagi puasa, saya tetap lemeess banget keluar rumah di musim panas seterik di sini.

Sebulan berlalu, Ramadhan pertama di Korea. Hari ini Idul Fitri pertama saya di Korea. Di Chuncheon, sholat Ied dilakukan di mushola kampus Kangwondae. Sebagai satu-satunya ibu-ibu Indonesia di Chuncheon, saya merasa hampa (lebay!). Beruntung PapaMi cuti, bisa mengisi kehampaan ini sepenuh hari.