Kamis, 11 Agustus 2016

Museum Nasional Chuncheon

Di alam bawah sadar saya mengakui sangat menikmati semua kunjungan ke museum. Meski awalnya terpaksa, kehabisan tempat hiburan, atau demi ngadem di ruang ber-AC gratisan, pada akhirnya saya sukaa! Di Polandia setiap museum pemerintah punya jadwal sehari dalam seminggu yang tiket masuknya gratis dan Malam Museum yang mengantri seruu sekali. Di Indonesia tiket masuk museum pemerintah sangaat muraahh tetapi tidak cukup menarik pengunjung sehingga banyak museum, di Bandung khususnya, malah jadi tempat berburu hantu saking spooky. Di Korea museum pemerintah dbiasanya free admission bahkan ada section anak-anak juga.

Museum Nasional Korea di Seoul itu megah sekali, Museum Narodowe di Warsaw juga sangat luas, sayangnya saya belum pernah ke Museum Nasional Indonesia (ampun!). Nah Museum Nasional Chuncheon (국립춘천박물관) juga termasuk besar di ibukota yang pedesaan ini. Jadi, pada-satu-hari-musim-panas-yang-biasa-suhu-real-feel-nya-42-seolah-belasan-matahari-membakar-senegara-ini-bersamaan, kami memutuskan berteduh dalam lindungan dinding marmer di museum.

Museum sejarah dan budaya Gangwon-do terdiri atas empat galeri: artefak dari masa prasejarah, sejarah kuno, Budha dan keluarga raja, serta kehidupan modern. Special exhibition berganti tema secara berkala, kami melihat lukisan-lukisan-entah-siapa waktu itu. Perpustakaan yang nyaman, section anak yang sayang sekali ruangannya sempit, ruang pertunjukan outdoor, dan taman batu untuk jalan-jalan. Secara keseluruhan, bagus, menjadi pilihan berlibur akhir pekan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar