Jumat, 22 Juni 2012

Dede Suka Main Air, Main Pasir

Awalnya, karena musim dingin yang suhunya minus 23, Dede selalu nangis setiap kali mandi. Namun sekarang musim semi, dan Dede sudah semakin bukan-bayi-lagi. Dede tidak perlu menangis memeluk mama saat mandi. Dede malah betah berlama-lama, main air. Tidak cukup di waktu mandi, Dede kadang mengajak saya lagi ke kamar mandi, basah-basahan lagi, ganti baju lagi.

Rabu, 13 Juni 2012

Saya Tidak Boleh Memarahi Dede

Dede mengacak-acak lemari, menjatuhkan hp, menumpahkan susu, memecahkan sebotol kecap, dan banyak kekacauan lainnya. Barang-barang rusak. Saya harus ngepel lagi. Rrghh! Jengkelnya luar biasa.

Kalau Dede nakal, saya pengen banget marah, membentak, bahkan menjewer Dede. Supaya Dede tau Dede salah, sudah menyusahkan mamanya, Dede ga boleh melakukan itu lagi. Dede pun diam, dengan muka sedih. "Dede masih kecil, Ma. Dede belum ngerti."

Astagfirullah. Iya, Dede masih kecil, masih 1 tahun, gerak motoriknya belum sempurna, jalan pun masih suka jatoh. Dede adalah titipan, bahagia dari Tuhan. Apa saya akan membesarkannya dengan marah-marah? Membentuk pribadi Dede kelak dengan bekal kegagalan mengelola emosi begini? Tahukah Dede kalau saya marah itu karena sangat mencintainya?

Tidak boleh! Saya tidak boleh memarahi Dede!

teganya saya memarahi anak sepolos ini

Dampak buruk pertama, memarahi anak membuat mereka menjadi minder. Anak yang sering diberikan kata-kata negatif akan tertanam pada dirinya bahwa dia selalu membuat kesalahan, tidak berguna, tidak memiliki kemampuan, dan tentu tidak percaya diri.

Kedua, membuat anak menjadi tertutup. Karena sering dimarahi, anak menjadi takut pada orangtua, termasuk untuk bercerita dan berbagi. Padahal orangtua adalah orang yang seharusnya paling dekat dengan anak. Dengan orangtua saja anak sudah menutup diri, apalagi dengan orang lain.

Ketiga, membuat anak menjadi apatis. Saking seringnya dimarahi, anak menjadi tidak peduli. Ketika dimarahi, anak tampak mendengarkan, tapi sebenarnya hanya menganggap angin lalu saja. Anak menjadi cuek dan tidak respek terhadap orang lain.

Keempat, membuat anak menjadi membangkang. Anak tidak suka dimarahi, ada keinginan dirinya untuk melawan tapi tidak mampu. Maka anak akan menunjukkan ketidaksukaannya dengan berbagai cara; (1) sengaja tidak menurut, (2) diam dan tidak melakukan perintah orangtua, atau (3) melambat-lambatkan mengerjakan perintah orangtua, semuanya hanya supaya orangtuanya kesal dan semakin marah. Ada kesenangan tersendiri bagi anak tersebut jika melihat orangtuanya marah. Seiring usia anak yang bertambah, perilakunya akan semakin memberontak.

Kelima, anak meniru temperamen orangtua di lingkungan bermainnya. Anak berpikir bahwa dia yang lebih kuat dapat memaksakan dan menindas teman-temannya yang lebih lemah. Saat dewasa, bukan tidak mungkin anak melakukan hal yang sama terhadap anaknya juga.

Keenam, anak menjadi pribadi yang rentan. Kurangnya kasih sayang membuat anak cenderung depresif, nantinya mudah terpengaruh minuman keras, narkoba, bahkan berpikir untuk bunuh diri.

Naudzubillah. Semoga saya tidak memotivasi Dede menjadi demikian.

Tapi Dede tidak kenapa-kenapa kok kalau saya marahi. Dede diam, pasti sedang mencerna sehingga besok tidak akan mengacau lagi. Yakin? Saya teringat analogi air kolam. Air kolam itu tenang. Coba lemparkan batu, sampah, airnya beriak sebentar, tenang kembali. Kita tidak melihat di dasar kolam yang bersih telah tercemar sebuah batu yang kotor. Coba lemparkan batu lagi, sekali lagi, sekali lagi.

Anak memang tidak menunjukkan perubahan psikologisnya secara langsung setelah dimarahi. Namun perubahan buruk itu terjadi, bertambah, sesering kita memarahinya, sebanyak batu-batu yang dilemparkan ke dasar kolam. Suatu saat jumlahnya akan sangat banyak, akan kasat mata juga. Batu-batu itulah sampah yang mencemari kolam. Bentakan-bentakan itu juga sampah yang mencemari psikologis anak.

Maka, mulai sekarang, berjanjilah, saya tidak boleh memarahi Dede.

Jumat, 01 Juni 2012

Akhirnya, Saya Muak Berjejaring Sosial

"Twitter makes you think you are wise, foursquare makes you think you are a traveler, instagram make you think you are a photographer, facebook make you think you are friendly. But in the real world you are nothing." 



Di sini, dibanding sebuah desa di kabupaten Bandung Barat, akses internet jauuh lebih bagus. Saya menjadi sangat intensif menggunakannya, unlimited. Apalagi karena di dunia nyata kini saya nyaris tidak punya teman, selain papa dan dede. Sehingga kalau sebentar saja ada senggang, saya pasti membuka facebook, mencari kesenangan dari teman-teman maya. Saya membaca semua status, wall, notes, foto, link apapun. Dan berkomentar.

Dia ini, setiap mau tidur, mau makan, mau pergi kemana kemana, pasti bikin status. Apa kalau mau ee juga harus bikin status? Memangnya dia siapa, penting ya buat seluruh dunia tau dia lagi ngapain?!

Si ini, statusnya mengeluh terus, "Ga suka ujan". Besoknya bikin status lagi, "Ga suka mataharinya panas". Besoknya lagi bikin status lagi, "Ga suka AC-nya terlalu dingin". Maunya apa sih?!

Yang ini lagi, baru bikin jurnal nasional aja pengumuman, makan di Subway aja pamer, bulan madu ke Bali update foursquare tiap menit. Bahkan shaum, jumatan, tilawah, dan qiyamul lail pun diceritakan. Subhanallah sekali.

Foto-foto ini pula. Mindahin hardisk ke facebook? Udah fotonya amatir, orangnya ga cakep, mukanya zoom in semua. Menganggu selera makan!

Link-link yang banyak banget ini juga. Kemarin-kemarin virus, sekarang hoax. Ga bisa ya menunjukkan sedikit kepintaran Anda? Masa berita pembodohan gini di-share?!

Ah, semakin lama saya facebook-an, semakin kreatif saya memaki-maki. Akan semakin banyak saja dosa saya.

Saya memang tidak seekstrim yang tidak-lulus-UN-Bahasa-Indonesia karena keracunan bahasa alay di media sosial. Saya tidak kenalan dengan pria maya, janjian, kabur dari rumah, atau selingkuh. Saya juga tidak membunuh anak saya yang mengganggu ketika saya ber-facebook. Namun begini saja, saya sudah cukup merasakan dampak negatif jejaring sosial. Saya muak. Saya menyerah.

Saya memutuskan untuk berhenti, deactivated account. Iyan tidak setuju. Papa mengira gangguan kejiwaan saya muncul lagi, setelah dulu saya pernah merasa mungkin skizofrenia. Maka, demi tetap terhubung dengan keluarga di tanah air, demi meyakinkan papa kalau saya baik-baik saja, facebook account saya kembali.

Hanya saya terpaksa me-remove beberapa teman yang membuat saya hampir gila. Saya meng-hide newsfeed yang sering menimbulkan maki-maki. Papa juga meng-uninstall facebook mobile saya yang terlalu menggoda untuk diklik. Ya, solusi sebenarnya adalah saya harus mengurangi waktu ber-facebook. Bukankah yang berlebihan memang tidak baik?

Mohon doanya ya teman, semoga saya bisa menjadi warga facebook yang istiqamah.