Jumat, 01 Februari 2013

Untuk Sekian Kali

Alila memeluk suaminya, Josef. Dia sudah tidak marah lagi. Merelakan masakan istimewanya mendingin karena Josef pulang terlambat. Alila sudah mendapatkan ganti. Josef berjanji akan mengajaknya ke Italia, merayakan anniversary mereka. Hadiah yang sangaaat menyenangkan. Alila tidak sabar menunggu hari itu tiba.

Josef tersenyum, lega dan senang sekali melihat istrinya ceria lagi. Josef berusaha melupakan proyek kerjanya, laporan yang harus selesai dua minggu nanti. Lusa ia akan cuti. Ah, bosnya pasti berubah jutek mengerikan. Namun sekali ini mungkin Josef tidak perlu peduli. Demi Alila. Demi keutuhan dinding pernikahannya. Demi rumah yang telah dan akan terus mereka bangun.

Lusa tiba. Venezia ternyata dingin dan gerimis. Alila sedikit demam, lebih karena lelah berjam-jam di pesawat. Josef juga pusing, meski tidak seberapa. Ia masih sanggup menyeduh teh, dan membuatkan secangkir coklat panas untuk Alila.

Alila termenung menatap menara San Marco di kejauhan, melalui jendela hotel yang basah. Menara itu bangunan tertinggi di Venezia. Sekelilingnya plasa, basilika putih yang megah, dan pertokoan mahal Italia. Alila sudah di Venezia, seharusnya segera ke sana, menyentuhnya, memotretnya, mengingat setiap sudut dengan kepalanya. Apalagi kanal-kanal yang tadi dilewatinya, bangunan-bangunan unik, cantik luar biasa. Ahh, Alila tidak mau menunda lagi. "Kita sudah jauh-jauh ke Italia. Aku mau berkeliling, mau naik gondola."

Josef mendekatkan coklat panas yang tadi dibuatkannya, sudah hangat. "Tapi di luar hujan. Suhunya jadi drop. Pasti dingin sekali."

"Hujannya tidak deras. Lagipula kita punya jaket, tebal, bahkan bisa buat ski."

"Tapi kamu sakit. Nanti bagaimana kalau tambah parah?"

"Cuma demam. Sudah minum panadol, sebentar lagi sembuh. Kalau belum sembuh juga, pulangnya kita bisa ke dokter."

"Lebih baik sehari ini kita di hotel dulu. Besok kalau kamu sudah baikan, kita boleh keliling sepuasnya."

"Hari ini terakhir karnaval. Kita harus lihat topeng-topengnya."

"Di hotel ini nanti malam rasanya ada pesta juga. Kita bisa lihat topeng dan kostum-kostum. Ayolah, Sayang. Ini untuk kebaikan kamu juga."

"Aku akan merasa lebih baik hanya kalau keluar melihat karnaval. Jadi, aku mau naik gondola sekarang. Terserah kamu mau ikut, atau menunggu di sini" Alila memakai boots dan jaketnya. Dia menatap Josef dengan raut muka jengkel.

Josef diam. Dia mengerti bahwa menolak keinginan istrinya akan menjadi retakan di dinding yang menyatukan mereka, sebuah dinding pernikahan yang telah mereka bangun tahun demi tahun. Ia bersedia melakukan apa pun untuk menjaga keutuhan dinding itu, untuk melanjutkan membangun rumah mereka.

Akhirnya Josef mengikuti istrinya. “Baiklah, kita pergi”.

Alila tersenyum senang.

Josef melingkarkan lengan di pinggang istrinya. Mereka melangkah keluar hotel, berpayung gerimis dan angin yang bertiup dingiiin sekali.

Sementara Alila tidak menyadari ini adalah satu lagi bukti cinta suaminya. Untuk sekian kali.





* Terinspirasi dari sebuah cerpen karya Quim Monzó, lupa judulnya.

Setelah Dua Tahun

Seminggu lalu ia genap dua tahun. Masih juga kecil, kurus. Ia tidak menyukai makan. Tidak pula minum. Tidak pernah duduk manis menghabiskan seporsi makannya sendiri. Sekali ia menyukai plum, atau jeruk. Besoknya bosan, tidak mau lagi. Lainnya, dipiliih-pilih. Seringnya menolak, "enggak!". Masakan saya memang tidak enak.

Senin, 14 Januari 2013

"menulis senandika"

Saya lebih ingin menulis untuk menumpahkan kepala saya, meredakan sedih, marah, menyimpan bahagia. Ketika dementor menghisap saya, seharusnya saya punya cukup bukti untuk tidak terus menerus menangis. Ya, ini catatan saya, yang mungkin hanya saya yang mengerti (dan membaca). Bukan "notes of mine" karena saya tidak pernah menulis berbahasa Inggis *oh padahal saya di eropa tetapi kemampuan bahasa saya masih satu ini saja*. Tambahan lagi, template sebelumnya rame sekali namun tidak tepat sasaran.

Jumat, 11 Januari 2013

Wawel.. Krakow #4

Kastil Wawel adalah bagian Krakow yang wajib dikunjungi, benteng tertutup yang menghadap sungai Vistula, melindungi istana dan katedral.

Seperti sebagian besar kastil di Eropa Timur, Kastil Wawel awalnya diidentifikasi sebagai lokasi strategis, dekat sungai sebagai penunjang hidup serta berada di atas bukit sehingga memungkinkan melihat penyusup di bawah bukit. Juga seperti benteng-benteng lain di Polandia, kastil Wawel terdiri atas beberapa bangunan dari era yang berbeda, struktur asli telah diganti dengan struktur dekoratif yang lebih permanen. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa bukit Wawel telah digunakan sebagai permukiman sejak abad ke-7 selanjutnya menjadi markas raja dan bangsawan Polandia.

Stare Miasto.. Krakow #3

Stare Miasto atau Kota Tua Krakow adalah pusat sejarah paling terkenal di Polandia. Keseluruhan Stare Miasto adalah salah satu situs pertama yang dipilih untuk UNESCO's original World  Heritage List. Daerah ini dikelilingi dinding pertahanan sepanjang 3 km lengkap dengan 46 menara dan tujuh pintu masuk utama. Di dalamnya terdapat sekitar enam ribu situs bersejarah dan lebih dari dua juta karya seni. Beragam arsitektur bersejarah meliputi bangunan Renaissance, Baroque, dan Gothic, berupa istana, gereja, teater, rumah-rumah mewah bermacam warna, dengan detail bentuk, dinding, kaca patri, lukisan, patung, dan perabotnya.

Studi Literatur.. Krakow #2

Krakow, kota tua dan terbesar kedua di Polandia, merupakan pusat akademik, budaya, seni dan ekonomi. Kota ini dibangun sebagai lembah Sungai Vistula dengan jaringan anak sungai Wilga, Rudawa, Bialucha, Dlubnia dan Sanka. Sungai-sungai dan lembah-lembah tersebut adalah keajaiban alam yang menarik dari Kraków. Dikembangkan selama berabad-abad dari sebuah pemukiman jaman batu menjadi kota modern yang arsitektur dan tata kotanya sangat bervariasi. Nama resmi kota ini adalah Stoleczne Królewskie Miasto Kraków, atau "Royal Capital City of Kraków" Nama Kraków secara tradisional berasal dari Krakus, pendiri legendaris Krakow dan penguasa suku Lechitians (Polandia).

Hadiah dari Papa.. Krakow #1

Senangnya Papa libur banyak, natal dan tahun baru. Jalan-jalan yuk! Ke mana lagi di Warsaw? Berasa semua sudah khatam. Lagipula dingin begini. Kalau ke luar negeri visa saya dan Dede hampir habis. Papa juga masih banyak peer, belum seminar. Padahal ini Ryanair lagi diskon. Ah, ga seru. Lalu, ke Krakow saja ya? Wah, mauu! Lusa. Ciyus? Oh, terharu. Kecupkecup Papa.

Minggu, 06 Januari 2013

Dubbing Televisi Polandia

Di tivi polandia, seorang perempuan cantik bersuara laki-laki dewasa, datar, tidak berbeda di adegan romantis maupun adegan action tembak-tembakan. Sayup-sayup di belakangnya terdengar suara perempuan berbahasa Inggris. Namun suara asli itu selalu tertimpa suara laki-laki dewasa, sang lektor. Begitulah sistem dubbing di tivi Polandia, voiceover, dua track audio diperdengarkan secara bersamaan