Jumat, 01 Februari 2013

Setelah Dua Tahun

Seminggu lalu ia genap dua tahun. Masih juga kecil, kurus. Ia tidak menyukai makan. Tidak pula minum. Tidak pernah duduk manis menghabiskan seporsi makannya sendiri. Sekali ia menyukai plum, atau jeruk. Besoknya bosan, tidak mau lagi. Lainnya, dipiliih-pilih. Seringnya menolak, "enggak!". Masakan saya memang tidak enak.



Tiga hari setelah ulangtahun, ia sakit. Batuk, pilek, demam hingga 39. Ia lemas sekali. Semakin menolak makan. Lima suap bubur, sudah lumayan. Hanya mau nenen terus menerus. Saya sampai luka. Berhenti saja, toh memang waktunya.

Tiga hari kemudian demamnya turun, walau masih dengan bantuan ibuprofen. Lega. Ia mulai bisa tertawa, bisa bermain lagi, meski sempoyongan. Namun tetap saja tidak mau makan. Saya marah. Bagaimana ia bisa sembuh. Bagaimana serangkaian obat yang ditelannya bisa bekerja optimal. Bagaimana kalau perutnya malah tambah sakit tidak ada makanan. Bagaimana ia bisa mengganti tiga hari sebelumnya tanpa makan. Bahkan mana boleh ia menangis, tak ada cadangan energi tersisa di badannya. Ia terlalu kecil, kurus. Dan atas semua marah itu, ia terus saja menangis. Bukannya makan.

Mungkin saya kesurupan. Sekalian saja ia saya mandikan malam-malam. Tangisnya mereda. Ia minum sekotak susu, dan kami membuat teh manis sama-sama. Ia makan juga, roti tawar dengan selai coklat tebal dan meses warna-warni yang ia suka. Baru setengah lembar, muntah. Ini untuk kesekian kali. Susah-susah dipaksa makan, dimuntahkan semua. Belum saya harus mengepel, bau. Aargh, saya kesal sekali.

Ia diam saja, menonton peppa pig sendiri. Tidur sendiri. Sekarang ia mendengkur, hidungnya mampet. Sesekali ia batuk. Wajahnya manis. Sampai kapanpun akan tetap manis. Sayang ia sangat tidak beruntung. Bukankah seharusnya ia bersama seseorang yang selalu menemaninya dengan manis, bukan mama yang suka marah-marah. Apakah Tuhan tidak keliru memilih saya? Karena lama saya merasa gagal. Sungguh-sungguh gagal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar