Senin, 26 Mei 2014

Root Canal Treatment

*ini testimoni dari perspektif pasien berdasarkan pengalaman menjalani root canal treatment, perawatan kanal akar.

Kadang satu gigi saya ini sakit, tetapi selalu bisa diatasi. Kecuali malam itu, sakitnyaaa sampai ga bisa tidur semaleman. Jadilah paginya ke klinik private deket rumah karena kalau di klinik publik kemungkinan harus bikin appointment dan nunggu berhari-hari berminggu-minggu. Konsultasi. Ternyata dokternya baik, ga marah-marah meski hasil x-ray menunjukkan hampir semua gigi saya bermasalah. Untuk satu gigi yang sakit itu, saya kira bakal dicabut, ternyata masih bisa diselamatkan dengan root canal treatment. Seneng masih rejeki punya gigi, saya pun pasrah, terserah dokter mau ngapain saya.

Di pertemuan pertama, gigi langsung dieksekusi. Hamdallah, karena dibius, ga merasa sakit sedikitpun. Peralatannya juga canggih, komputerisasi. Gigi dilubangi, bagian pulpa yang penuh bakteri itu diambil. Gigi dipasang alat temporer dan kunjungan selanjutnya seminggu lagi. Seminggu itu segalanya baik, gigi ga sakit lagi. Cuma muncul beberapa sariawan akibat interaksi dengan peralatan "operasi". Selebihnya, hidup terasa ringan.

prosedur root canal treatment

Kunjungan selanjutnya kanal akar dibersihkan, tiga kanal untuk si gigi geraham. Tanpa bius, semua sakit menjadi nyata. Terlebih sariawan harus berinteraksi kembali dengan benda-benda yang menciptanya perih. Jarum-jarum sekian banyak menusuk-nusuk akar gigi. Berulang. Berulang. Merasakan ngiiik yang tak terkira, menghujam. Selama 1,5 jam, 5400 detik yang lamban, tak terdeskripsikan sakitnya.

Break pada kanal ketiga. Kata Mbak Dokter --setelah x-ray-- anatomi kanalnya unik tak terjangkau, pembersihan dilanjutkan dua hari lagi. Ternyata sakit tidak berhenti. Nyut nyuuut, dua hari saya sakit gigi. Dan tidak pernah ada sakit hati yang lebih sakit dari sakit gigi!

Kunjungan ketiga kanal terakhir dibersihkan, dengan jarum-jarum yang sama mengantarkan sakit yang masih sesakit sebelumnya. Selesai dibersihkan, kanal di-filling dengan gutta-percha. Ditusuk kembali, ditekan. Perjuangan belum berakhir. Lalu dipasang crown, dengan alat semacam pembuka kaleng, sakiiit tak terkiraa. Sesekali dibor, seringkali ditekan-tekan. Air mata pun menetes menahan sakit. Lebay ini sungguhan.

Mbak Dokter bilang, sakit kemungkinan akan berlanjut sampai dua minggu, sementara sariawan bermunculan di sekujur dinding mulut. Huaaa. Saya memilih mengkonsumsi ibuprofen, demi sedikit melupakan sakit untuk bisa makan. Sakitnya baru berkurang mulai hari ketiga.

Kesimpulan root canal treatment ini: menyakitkan. Selain harganya mahal, hampir 1000 zloty. Namun satu berita baik, saya masih punya gigi.

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Iiiisss, peluk duluuu. Kita senasib. Beberapa waktu yang lalu juga menjalani perawatan akar gigi. Gak tanggung-tanggung, 3 jam, termasuk wara-wiri ke ruang x-ray yang jaraknya agak jauh dari ruang perawatan. Sampai tremor tangan dokternya. Rasanya memang luar biasa... Semoga lekas sembuh ya.

    BalasHapus
  3. Mbak Diaaan, pelukan kita.. Saya belum berani ngunyah pake gigi mahal ini :)))
    Apa kabar Mbak?

    BalasHapus