Selasa, 07 Februari 2012

Memasak

"Karena saya ga bisa masak, saya mau menikah sama cowo yang jago masak."

Beruntungnya doa saya itu dikabulkan. Papa jauh lebih bisa masak dibanding saya. Sedangkan kemampuan masak saya ya masih segini-segini saja.

Sekali waktu saya hanya punya brokoli dan kol. Saya tumislah keduanya, dengan bumbu seadanya ala eropa. Dalam masakan itu, kol adalah elemen pengganggu. Jadilah kami pilih-pilih brokolinya saja. Semua kol dibuang. Maka, ketika saya akan memasak lagi, saya bertekad untuk memasak pure brokoli. Kalau di capcay lengkap pun, bukankah brokoli yang paling enak? Jreng jreng. Inilah masakan spesial " steamed broccoli". Dan saya perlu tiga gelas teh manis untuk melupakan enegnya.


Masakan kedua adalah ayam goreng. Sederhana. Kecuali karena saya harus memasak dengan Dede yang menangis, yang suaranya sangat mungkin mengganggu tetangga-tetangga. Dede menarik-narik celana saya, memaksa berhenti, berganti saya marah-marah, dan Dede semakin menjerit. Argh! Ayam goreng saya pun harus menderita gosong dan keasinan.



Rekor masakan paling ga enak adalah mashed potato. Udah ga enak, buruk rupa pula. Dede yang makan sesendok langsung muntah. Tapi sayang sudah menyia-nyiakan milk butter, mozarella, dan mleko, saya pun dengan sangat terpaksa memakannya. Terlanjur aneh rasanya, saya tambahkan bumbu pecel. Ternyata pedas saja tak sanggup menyamarkan rasa mual saat menelannya. Akhirnya saya relakan sisanya dibuang. Hoek!


Jadilah masakan saya bertahan pada ikan asap dan sayur bayam. Walaupun kian hari kian membosankan, menu ini paling aman. Dengan aibi sulit menemukan daging halal, mahalnya ikan segar, dan tidak tersedianya bumbu-bumbu seperti di Indonesia.

Saya menjadi semakin depresi memasak. Senang jika ada banyak waktu papa ikutan memasak. Kalau ternyata ga enak tinggal bilang, kan papa yang masak. Hehe.

2 komentar:

  1. nanti lama-lama juga bisa. the power of kepepet, hehehe....
    aku dulu juga ga bisa masak, sampe sekarang ya sekedar bisa aja dan suka ga PD kalau masak buat orang lain selain suami&anak :)
    masih suka ga konsisten rasanya, suka lupa resep jadi harus browsing n buka buku lagi meskipun sudah pernah masak sebelumnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin. semoga bisa! tapi masakan saya beneran kacau Mbak, sampai saya sendiri pun ga sudi memakannya. haha. cewe macam apa saya ini? saya harus mencari bakat kewanitaan yang lain. tapi tampaknya memang ga ada :p

      Hapus